Karakteristik Pribadi Mulia

JIKA seluruh manusia di dunia ini memiliki karakter pribadi mulia,
dapat dibayangkan betapa indahnya kehidupan ini: tidak ada konflik,
permusuhan, kerusuhan, tindak kriminal, dan sebagainya. Sebaliknya,
yang ada adalah semangat kerjasama, saling berkasih-sayang,
tolong-menolong, dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Dapatkah kondisi demikian tercipta? Insya Allah, jika dakwah Islamiyah
terus-menerus berlangsung dengan para jurudakwah berjiwa mujaddid
(pembaharu), muwahid (pemersatu), mujahid (pejuang), muadib
(pendidik), dan musadid (pelurus) dengan keimanan dan keikhlasanya.
Sasaran utama dakwah adalah perubahan pola pikir dan sikap, sehingga
terbentuk manusia-manusia berkepribadian mulia. Itu pula yang menjadi
misi Islam sejak kelahirannya, yakni membentuk budi pekerti yang
mulia.

Akhlak tempatnya di dalam hati. Ia adalah “sentral komando” perilaku
manusia. Akhlak adalah penentu baik-buruk perilaku seseorang. Fondasi
akhlak yang membawa kebaikan amal perbuatan adalah dzikrullah, yakni
selalu mengingat Allah SWT dalam segala kondisi. Dzikrullah adalah
dasar akhlak mulia, bersama sifat pemaaf, suka mengajak kepada
kebenaran, berpaling dari orang-orang bodoh, suka berlindung kepada
Allah SWT dari godan setan (QS Al A’raf [7]: 199-201).

UPAYA dakwah hendaknya tidak lepas dari upaya pembentukan karakter
pribadi mulia dengan fondasi akhlak yang mulia sebagai berikut:

Pertama, berbicara yang baik saja. “Barangsiapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, hendaklah berbicara yang baik atau (jika tidak
demikian) hendaklah diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah pembicaraan
dikatakan baik apabila isinya bermanfaat, mengandung kebajikan,
membuat senang pendengarnya, atau tidak menyakiti hati orang lain.
Pembicaraan yang baik juga bercirikan penggunaan kata-kata yang benar
atau sesuai kaidah bahasa yang berlaku (qaulan sadida, QS An-Nisaa’
[4]: 9), kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau mudah
dimengerti (qaulan baligha, QS 4: 63), serta mengunakan kata-kata yang
santun, lemah-lembut, atau tidak kasar (qaulan karima, QS Al Isra
[17]: 23). Pembicaraan yang baik juga harus penuh kejujuran atau
kebenaran (shidqi).

Kedua, malu (haya’). Malu adalah perasaan untuk tidak ingin
direndahkan atau dipandang buruk oleh pihak lain. Jadi, malu adalah
persoalan harga diri atau gengsi. Malu yang paling utama adalah malu
kepada Allah SWT sehingga tidak berbuat sesuatu yang melanggar
aturan-Nya. Malu kepada manusia harus dalam konteks malu kepada-Nya.
“Sesungguhnya sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan
nabi-nabi terdahulu ialah ‘Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah
sesukamu!'” (HR Bukhari).

Ketiga, rendah hati (tawadhu’), yaitu perasaan lemah dan kecil di
hadapan Allah. Sifat ini akan membuat seseorang tidak berlaku sombong,
tidak memandang dirinya mulia apalagi merasa paling benar. Fadhil bin
Iyadh mengatakan, tawadhu’ ialah tunduk kepada kebenaran dan
mengikutinya, walaupun kebenaran itu datang dari seorang anak kecil.

Keempat, senyum atau bermanis muka. Senyum adalah suatu kebajikan dan
sama dengan ibadah sedekah. Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya
agar murah senyum, atau bermuka manis. Menyenangkannya senyum dapat
kita rasakan tatkala melihat keramahan orang lain pada kita.
Sebaliknya, sukakah kita melihat orang cemberut dan bermuka masam
terhadap kita? Rasulullah bersabda, “Kamu tidak bisa meratai (memberi
semua) manusia dengan harta-hartamu, tetapi hendaklah bermanis muka
dan perangai yang baik dari kamu meratai mereka” (HR Abu Ya’la).

Kelima, sabar. Bersabar dalam pergaulan adalah sifat mukmin sejati.
Dalam bergaul kita menemui banyak orang dengan ragam watak dan
perilakunya: ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan.
Terhadap yang tidak menyenangkan, kita diharuskan bersabar menghadapi
sikap mereka. “Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas
gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan manusia
dan tidak sabar atas gangguan mereka (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Sabar adalah suatu kondisi mental dalam
mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama”.
Menurut Nabi SAW ada beberapa tingkatan sabar, yaitu (1) sabar dalam
menghadapi musibah, (2) sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT, dan
(3) sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat. Sabar yang
pertama merupakan kesabaran terendah, yang kedua merupakan tingkat
pertengahan, dan yang ketiga merupakan kesabaran tertinggi (HR Ibnu
Abi Ad-Dunia).

Keenam, kuat atau tahan banting. Kuat artinya memiliki ketahanan
mental dan fisik yang tinggi. Tidak mudah putus asa, tidak suka
mengeluh, dan sehat jasmani-rohani. Kuat juga bisa dimaknai unggul dan
berkualitas. Janganlah berputus-asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir (QS Yusuf
[12]:87).

Ketujuh, pemaaf, tidak pendendam. Memaafkan kesalahan manusia dan
menahan amarah adalah ciri orang bertakwa (QS Ali Imran [3]: 134).
“Allah tidak akan menambah seseorang yang suka memberi maaf melainkan
dengan kemuliaan.” (HR Muslim).

Kedelapan, menahan amarah. Marah dapat membawa malapetaka. Orang
sedang marah dikuasai hawa nafsu dan syetan. Pikirannya menjadi tidak
jernih, tidak bersih. Akalnya menjadi tidak berfungsi normal. Bukanlah
orang yang gagah perkasa namanya ia yang kuat bergulat, tetapi yang
disebut gagah perkasa itu ialah orang yang dapat mengendalikan
nafsunya (dirinya) ketika sedang marah.” (HR Bukhari Muslim).
Kesembilan, zuhud. Ketika seorang sahabat meminta nasihat tentang amal
yang disukai Allah dan manusia, Nabi SAW menegaskan, Berzuhudlah dari
dunia, niscaya Allah menyukaimu dan zuhudlah dari apa yang di tangan
manusia, niscaya manusia menyukaimu. (HR Ibnu Majah). Zuhud adalah
sikap tidak terlalu mencintai dunia, bahkan membencinya dalam
batas-batas yang wajar. Menurut Rasulullah SAW, “Zuhud di dunia tidak
mengharamkan yang halal dan tidak membuang harta…” (HR Tirmidzi).

Kesepuluh, Qonaah, yaitu merasa cukup dengan rezeki yang diberikan
oleh Allah SWT. Sikap demikian membuatnya tenang dan senantiasa
mensyukuri pemberian-Nya, sedikit ataupun banyak. “Bukanlah orang kaya
itu yang banyak hartanya, melainkan yang kaya jiwanya (hatinya).” (HR
Bukhari dan Muslim). Kesebelas, wara, yakni menjauhi hal syubhat
karena takut jatuh kepada keharaman. Syubhat artinya tidak dapat
dipastikan halal-haramnya (berada antara halal dan haram). Nabi SAW
mengatakan, siapa yang menjauhi syubhat berarti ia membersihkan diri
dan agamanya. Siapa yang mendekati syubhat, maka dikhawatirkan
termasuk pada hal haram. (HR Muttafaq ‘Alaih).

Keduabelas, suka menolong, yaitu membantu orang yang sedang dalam
kesulitan, selama berada pada garis kebaikan dan takwa. Termasuk
menolong orang lain adalah menutupi aibnya sehingga tidak membuatnya
malu. “Siapa yang menutupi aib orang mukmin, maka Allah akan menutupi
aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan tetap menolong hamba-Nya
selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR Muslim).
Demikianlah karakteristik pribadi mulia yang harus kita tanamkan dalam
diri kita dan didakwahkan kepada orang lain. Semoga Allah memberikan
bimbingan dan pertolongan kepada kita dan para mujahid dakwah. Wallahu
a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s