Saudaraku ….

Saudaraku….
Dunia terus berputar, waktupun terus berlalu,
hari-hari yang kita lalui dari pagi hingga datang pagi lagi kadang begitu menyesakkan,
bahkan kadang kala ingin kita berhenti mengarunginya.
Atau sebaliknya, muncul keinginan yang dalam akan adanya suatu perubahan yang baru, yang dapat membawa sedikit pencerahan ke arah yang lebih baik, tidak membosankan, apalagi menjemukan.
Seperti seorang musafir di padang pasir, kita butuh seteguk air;
Seperti orang buta, kita butuh cahaya;
Seperti orang bisu, kita ingin bicara;
Seperti orang tuli, kita ingin mendengar nada….

Saudaraku….
Sadarkah kita betapa dosa-dosa telah berakar dalam lapisan kulit dan gundukan tulang-tulang kita?
Sadarkah kita betapa hati kita mati oleh kekejaman dan dominasi nafsu dunia?
Sering gelak tawa kita menutupinya.
Namun jika kesedihan menghujam,
kejenuhan menawan,
kemana kita mencari tabirnya, agar tersembunyi semua kekerdilan jiwa kita?

Saudaraku….
Jangan lagi berkaca di cermin agar hidup tak menjemukan.
Cermin tak pernah berdusta, tapi tak mampu memberi kita variasi analisa.
Hanya sikap egosentris yang digambarkannya,
hanya dari sudut pandang benda di depannya.

Saudaraku….
Minimalisir penyesalan, tataplah keluar barang sejenak,
bergurulah pada alam yang telah banyak ajari kita banyak hal.
Jendela luas bentangkan paparan kehidupan yang dapat kita petik buahnya dan kita rasa manis pahitnya,
yang tunjukkan kita sebuah perjalanan yang kan antar kita pada perjumpaan dengan Kekasih yang maha penyayang…

Saudaraku….
Berkacalah di jendela,
banyak kejadian di luar sana, bisa ratusan bahkan ribuan.
Kenapa kita masih sombong, tidak mengambil hikmahnya?
Apa yang bisa kita banggakan dari diri yang lemah ini???

Saudaraku….
Hanya kematian yang hentikan panggung sandiwara dunia kita.
Ia bisa hampiri kakek/nenek tua, gadis cantik/pemuda tampan, ayah/ibu,
bahkan tak segan disambarnya bayi tak berdosa.
Mungkin sedetik lagi kematian kan hampiri kita, siapkah kita?
Siapkah kita pertanggung jawabkan hari-hari penuh maksiat kita?
Sanggupkah kita jawab pertanyaan-pertanyaan Allah tentang kehidupan kita di dunia?
Saudaraku….
Setelah kita ambil hikmah di jendela, kembalilah berkaca pada cermin.
Tatap diri lekat-lekat,
lihat mata yang ada di cermin itu.
Tanyakan padanya,
“Wahai mata, apa saja yang kaulihat selama ini?
Halalkah yang kau pandang selama ini?
Siapkah kau tatap purnama Allah yang agung, wajah Rasul yang teduh, surga yang harum?”.
Atau akan terburaikah, tertusuk, tersirami air panaskah mata ini karna tidak amanah,
karna banyak melihat yang tidak halal.
Mata yang bening dan indah itu kini bisu,
tapi nanti ia akan berbicara, membuka seluruh aib kita.
Maka sebelum mata itu bicara, katakan padanya,
“Wahai mata, tataplah saja yang dihalalkan Allah”.

Saudaraku….
Kemudian perhatikan mulut kita…
Tanyakan padanya apa saja yang telah terucap.
Kenapa bergunjing, menyakiti, menebar fitnah, dan berdusta menjadi hobi?
Sanggupkah bila nanti kau terjulur dan berbusa karna makanan dan minuman haram pernah masuk di situ?
Sanggupkah wahai mulut???
Karenanya….
ucapkanlah yang baik atau diam,
sampaikanlah yang haq walau berat,
tersenyumlah pada saudaramu,
serulah manusia kepada Tuhanmu,
kelak engkau akan disapa oleh mulut yang tidak pernah berdusta,
yang karna mulut itu harga diri kita ada…
mulut sang pribadi mulia…Rasulullah SAW….

Saudaraku….
Rabalah dada kita, tempat bersemayamnya qalbu,
katakan bahwa walau ia tak tampak di cermin tapi sangat besar peranannya dalam kehidupanku, dalam menentukan baik buruknya aku.
Sadarkah kita akan debu yang menjadikan qolbu kita legam?
Akankah kita biarkan qolbu itu tetap kotor, kering, dan gersang?

Kemudian…
perhatikanlah wajah cantik/tampan yang terpantul di sana.
Akankah ia kekal abadi?
mampukah nanti ia terangkat, atau hanya akan tertunduk malu menyaksikan amalanmu di dunia….
atau….wajah itu akan bersinar, berseri-seri menatap wajah yang paling agung….

Saudaraku….
Setelah kita berkaca pada keduanya,
kenali kembali diri kita,
bersyukurlah pada Allah,
karna tlah dituntun-Nya kita ke dalam perjalanan yang dilalui oleh para kafilah dakwah.

Saudaraku….
Entah mengapa kita senantiasa lupa,
entah mengapa kesombongan dan keangkuhan senantiasa meraja,
padahal, kerja kita belum menghasilkan apa-apa,
bahkan kita senantiasa bercermin tanpa mau menengok ke jendela,
di mana alam terbentang luas, mengajarkan banyak cerita pada kita.

Saudaraku….
Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.
Yang terlambat adalah bila kita tidak memulainya sama sekali.
Kinilah saatnya kita kokohkan kembali langkah awal perjuangan kita.
Buanglah segala kelabu menderu.
Lepaskanlah segala yang menghempas,
berpalinglah dari semunya dunia,
mantapkan hati memulai langkah baru di dalam naungan Ilahi.

Saudaraku….
Tidak banyak waktu yang kita miliki,
jangan mengeluh dan termangu dungu.
Bangkit dan songsong dunia penuh ceria,
pintunya kini berhiaskan tantangan dan kerja keras, kesungguhan dan cita – cita.
Islam menunggu perubahan kita, agar dapat kita kembalikan kejayaannya.

Saudaraku….
Cukuplah Allah pelindung dan penolong kita,
kita mohonkan ampun pada-Nya atas khilaf dan alfa,
pintakan segala kebaikan dari-Nya,
mudah-mudahan digerakkan-Nya lisan kita tuk senantiasa menyebut asma-Nya.
Mudah-mudahan Ia bangkitkan kita di tengah malam,
agar ikhlas membentangkan sajadah,
dan kita tertunduk pasrah,
alirkan air mata membasahi bumi,
agar dekat hati kita pada-Nya,
agar kuat kita arungi hidup ini, betapapun godaan dan halangan yang harus kita lalui…

Saudaraku….
Tiada kata indah yang pantas kita ucap, kecuali syukur atas nikmat-Nya.
Tanpa itu kita tidak berarti apa-apa….
“Astagfirullah….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s